Lombok Timur, NTB — Perubahan kondisi iklim menjadi salah satu tantangan penting bagi sektor pertanian. Ketersediaan air, curah hujan, kondisi tanah, hingga munculnya serangan hama dapat memengaruhi produktivitas tanaman pangan. Karena itu, dibutuhkan pendekatan budidaya yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga mampu membantu petani beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan melalui pembelajaran di wilayah program Lombok Timur adalah Teknologi Pertanian Konservasi (TPK). LPSDM bersama World Neighbors (WN) mengembangkan dan menguji penerapan teknologi ini sebagai upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap input eksternal.
Mengenal Teknologi Pertanian Konservasi
Teknologi Pertanian Konservasi merupakan pendekatan budidaya yang dalam penerapannya mengacu pada tiga prinsip utama, yaitu pengolahan tanah secara terbatas, penutupan permukaan tanah, dan rotasi tanaman. Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dalam proses budidaya.
Dalam konteks adaptasi perubahan iklim, pendekatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama petani. Teknologi tidak diterapkan sebagai satu paket yang seragam, tetapi disesuaikan dengan kondisi lahan, curah hujan, ketersediaan bahan lokal, biaya produksi, serta pengalaman petani dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Pembelajaran Budidaya Jagung di Pringgabaya Utara
Salah satu pembelajaran penerapan TPK dilakukan pada budidaya jagung di Desa Pringgabaya Utara. Pengamatan dilakukan pada lahan Amaq Masitah dengan membandingkan penerapan teknik pertanian konservasi dan lahan kontrol.
Pada musim tanam pertama, teknik olah lubang pada lahan seluas 2 are menghasilkan produksi sekitar 100 persen lebih tinggi dibandingkan lahan kontrol. Sementara itu, teknik olah jalur pada luasan yang sama menghasilkan produksi sekitar 90 persen lebih tinggi dibandingkan kontrol. Temuan awal tersebut kemudian menjadi dasar untuk memperluas penerapan teknologi pada musim tanam berikutnya.
Baca Juga : https://www.lpsdmitra.com/category/program/adaptasi-perubahan-iklim/
Pada musim tanam kedua tahun 2021, penerapan TPK diperluas hingga 25 are, yang terdiri dari 3 are teknik olah lubang, 22 are teknik olah jalur, serta sebagian lahan sebagai kontrol. Benih yang digunakan berasal dari hasil panen musim sebelumnya sehingga petani tidak perlu membeli benih baru. Pada teknik olah lubang, pupuk organik juga tidak lagi diberikan pada musim kedua.
Pengurangan Penggunaan Pupuk Kimia
Salah satu aspek yang diamati dalam penerapan pertanian konservasi adalah penggunaan input produksi. Dalam praktik konvensional, penggunaan pupuk tercatat sekitar 150 kg/ha pupuk urea dan 100 kg/ha pupuk Ponska. Sementara itu, pada penerapan TPK, kebutuhan pupuk urea tercatat sekitar 100 kg/ha. Pada lahan seluas 35 are, penggunaan pupuk kimia tercatat sebanyak 40 kg.
Data tersebut menunjukkan adanya pembelajaran mengenai peluang efisiensi penggunaan input melalui penerapan teknologi pertanian konservasi.
Produktivitas Jagung dan Tanaman Penutup Tanah
Hasil pengamatan pada musim tanam kedua menunjukkan peningkatan produksi dibandingkan musim sebelumnya.
Pada teknik olah lubang, produksi jagung mencapai 8.450 kg/ha, meningkat dari 4.355 kg/ha pada musim sebelumnya. Sementara teknik olah jalur menghasilkan 7.670 kg/ha, dibandingkan 3.900 kg/ha pada musim sebelumnya.
Subscribe Youtube LPSDM : https://www.youtube.com/@lpsdmoffice4863
Penerapan pertanian konservasi juga tidak hanya berfokus pada tanaman utama. Kacang hijau sebagai tanaman penutup tanah (cover crop) menghasilkan sekitar 15 kg/are atau setara 1,5 ton/ha. Keberadaan tanaman penutup tanah menjadi salah satu bagian dari pendekatan konservasi yang diterapkan dalam proses pembelajaran tersebut.

Potensi Manfaat Ekonomi
Selain produktivitas, pembelajaran TPK juga melihat aspek ekonomi usaha tani. Berdasarkan analisis yang dilakukan pada saat itu, keuntungan yang dihitung dari pendapatan dikurangi biaya produksi tercatat sebesar:
- Rp47.424.000 pada teknik olah lubang;
- Rp37.440.000 pada teknik olah jalur; dan
- Rp32.448.000 pada praktik konvensional.
Angka tersebut memberikan gambaran mengenai potensi aspek ekonomi yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pertanian konservasi. Namun, hasil tersebut merupakan temuan dari pembelajaran pada lokasi dan periode penerapan tersebut sehingga masih membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk melihat konsistensinya pada kondisi yang berbeda.
Adaptasi Petani Menghadapi Curah Hujan dan Serangan Hama
Pembelajaran pertanian konservasi juga dilakukan melalui kebun pembelajaran di Desa Jurit, yang dikelola Herman Sopian bersama kelompok Taruna Tani.
Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan inovasi pertanian tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kemampuan petani melakukan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan.

Pada fase awal penerapan, tanaman jagung menghadapi curah hujan dengan intensitas tinggi dan serangan ulat grayak yang menyebabkan kerusakan pada pucuk tanaman. Petani kemudian melakukan beberapa penyesuaian, antara lain menggunakan pupuk organik cair untuk mendukung pertumbuhan tanaman, memanfaatkan bahan nabati lokal seperti gadung, daun pepaya, tembakau, nimba, dan brotowali sebagai bahan pestisida hayati, serta membangun saluran drainase untuk mengurangi dampak kelebihan air.
Setelah dilakukan berbagai penyesuaian tersebut, pertumbuhan tanaman menunjukkan perkembangan yang lebih baik dan pada akhir Januari tanaman mulai membentuk tongkol.
Pengalaman ini juga memperlihatkan perubahan persepsi di antara petani. Amaq Azmi, yang sebelumnya meragukan keberhasilan penanaman jagung pada lahan tadah hujan dengan kondisi curah hujan tinggi, kemudian mulai menerapkan pertanian konservasi di lahannya.
490 Petani Mengadopsi Pertanian Konservasi
Pengalaman penerapan Teknologi Pertanian Konservasi menunjukkan bahwa pendekatan konservasi berpotensi memberikan manfaat pada beberapa aspek sekaligus, mulai dari produktivitas, efisiensi penggunaan input, pengelolaan tanah dan air, hingga diversifikasi hasil melalui tanaman penutup tanah.
Pada saat dokumentasi dilakukan, penerapan TPK telah diadopsi oleh sekitar 490 petani pada lahan seluas 22,09 hektare yang tersebar di delapan desa di Lombok Timur, yaitu Sugian, Dara Kunci, Gunung Malang, Seruni Mumbul, Pringgabaya Utara, Sapit, Labuhan Lombok, dan Dadap.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran pertanian konservasi telah berkembang dari praktik pada lahan percontohan menuju penerapan yang lebih luas di tingkat masyarakat.
Pertanian Konservasi sebagai Proses Belajar Bersama Petani
Salah satu pembelajaran penting dari penerapan TPK adalah bahwa inovasi pertanian berbasis konservasi tidak dapat dipahami hanya sebagai paket teknologi yang diterapkan secara seragam.
Setiap lahan memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Curah hujan, serangan hama, kondisi lahan, ketersediaan bahan lokal, biaya input, serta kemampuan petani melakukan penyesuaian menjadi faktor yang dapat memengaruhi hasil penerapan.
Karena itu, pendekatan pertanian konservasi membutuhkan proses pembelajaran yang melibatkan petani secara aktif. Pengalaman di Pringgabaya Utara dan Jurit memperlihatkan bagaimana petani melakukan pengamatan, mencoba teknik, menghadapi kendala, kemudian melakukan penyesuaian berdasarkan kondisi yang mereka temui di lapangan.
Mendorong Riset dan Inovasi Pertanian Berkelanjutan
Pengalaman penerapan Teknologi Pertanian Konservasi di Lombok Timur memberikan dasar empiris untuk pengembangan riset dan inovasi pertanian berikutnya.
Pengujian lebih lanjut dapat diarahkan pada beberapa aspek, seperti produktivitas tanaman, efisiensi penggunaan input, manfaat ekonomi, kemampuan adaptasi terhadap kondisi lingkungan, serta peluang penerapan teknologi pada skala masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, pertanian konservasi dapat terus dikembangkan sebagai proses inovasi yang berangkat dari pengalaman petani dan kondisi nyata di lapangan. Bukan sekadar mengejar peningkatan produksi, tetapi juga mencari cara agar sistem pertanian dapat menggunakan sumber daya secara lebih efisien dan mampu menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Pembelajaran dari Lombok Timur menunjukkan bahwa adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian dapat dimulai dari praktik sederhana di tingkat lahan—dengan petani sebagai bagian utama dari proses inovasi.


