Desa Sepit, Lombok Timur — Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menunjukkan komitmennya dalam mendorong pembangunan desa inklusif melalui kunjungan lapangan ke Desa Sepit, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, pada Selasa (26/5/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung praktik baik implementasi Program INKLUSI yang dijalankan oleh Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra (LPSDM) bekerja sama dengan Institut KAPAL Perempuan melalui Sekolah Perempuan Desa Sepit.
Rombongan yang dipimpin Direktur Perdesaan, Daerah Afirmasi, dan Transmigrasi (PDAT) Bappenas, Mohammad Roudo, bersama Sekretariat INKLUSI Jakarta disambut langsung oleh Pemerintah Desa Sepit, kader Sekolah Perempuan, serta mitra lokal yang selama ini aktif terlibat dalam penguatan masyarakat dan kelompok rentan di desa tersebut.
Kunjungan ini menjadi bagian dari pembelajaran langsung terhadap implementasi program desa inklusif yang telah berjalan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
BACA JUGA : https://www.lpsdmitra.com/2024/01/09/perempuan-pemberdaya/
Direktur PDAT Bappenas, Mohammad Roudo, menilai Desa Sepit sebagai salah satu desa dengan inovasi konkret yang layak dijadikan contoh bagi desa-desa lain di Indonesia.
“Kami ingin melihat bagaimana masyarakat memiliki kesetaraan dan kesempatan yang sama melalui model desa inklusif. Tidak semua desa memiliki kegiatan dan inovasi nyata seperti di Desa Sepit,” ujar Roudo
Ia juga mengapresiasi perkembangan UMKM dan berbagai inisiatif masyarakat yang tumbuh melalui Program INKLUSI. Menurutnya, praktik baik yang dilakukan Desa Sepit perlu dipelajari dan direplikasi di wilayah lain guna mendorong pembangunan desa yang lebih adil, setara, dan inklusif.
Sementara itu, Direktur LPSDM, Ririn Hayudiani, menyampaikan bahwa Sekolah Perempuan telah memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan Desa Sepit, khususnya dalam meningkatkan partisipasi perempuan dan penyandang disabilitas dalam proses pembangunan desa.
“Dalam Program INKLUSI, Sekolah Perempuan telah mendorong praktik baik seperti pendataan partisipatif berbasis gender dan disabilitas, penguatan kesetaraan gender, serta inklusi sosial yang kini menjadi rujukan pemerintah desa dalam penyusunan program,” jelas Ririn.
Ia menambahkan, kehadiran Program INKLUSI juga melahirkan berbagai inisiatif masyarakat, seperti Pos Pencegahan Pernikahan Anak serta penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dikelola perempuan.
“Kehadiran INKLUSI di Desa Sepit telah memberi warna baru dalam pembangunan desa,” tambahnya.
Kepala Desa Sepit, M. Hasmawadi, mengaku bersyukur atas perhatian dan dukungan yang diberikan kepada Desa Sepit melalui Program INKLUSI dan Sekolah Perempuan. Menurutnya, program tersebut telah membantu desa dalam berbagai aspek pembangunan dan pendampingan masyarakat.
“Sekolah Perempuan telah membantu Desa Sepit dalam banyak aspek pembangunan, termasuk pendampingan masyarakat. Meski dana desa mengalami efisiensi, kami berharap kegiatan ini tetap berjalan karena manfaatnya dirasakan langsung oleh warga,” ungkap Hasmawadi.
Ia menegaskan bahwa semangat kebersamaan menjadi modal utama dalam membangun desa yang inklusif dan berpihak kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Subscribe Channel Youtube Kami : https://www.youtube.com/@lpsdmoffice4863
Sejak tahun 2025, Desa Sepit mencatat sejumlah capaian penting melalui Program INKLUSI. Beberapa di antaranya adalah pelaksanaan Musrenbang inklusif yang melibatkan perempuan dan penyandang disabilitas, pelayanan dokumen administrasi kependudukan bagi 151 warga, hingga penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) khusus disabilitas berdasarkan data PRA tahun 2025–2026.
Selain itu, desa juga berhasil membentuk usaha bersama dan kelompok ekonomi perempuan, menurunkan angka perkawinan anak, menerima 41 alat bantu disabilitas dari Kementerian Sosial, serta masuk nominasi Desa Cantik atau Desa Cinta Statistik.
Saat ini, perempuan dan penyandang disabilitas di Desa Sepit juga semakin aktif terlibat dalam berbagai proses pembangunan desa, mulai dari perencanaan program, pemberdayaan ekonomi, hingga pengawasan program sosial masyarakat.
Kunjungan lapangan tersebut diakhiri dengan dialog bersama masyarakat serta peninjauan langsung terhadap kegiatan Sekolah Perempuan dan produk UMKM lokal khas Desa Sepit. Bappenas berharap praktik baik pembangunan desa inklusif di Desa Sepit dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia.


