PEREMPUAN TANGGUH DI TENGAH IKLIM YANG BERUBAH:Cerita Ibu Zakiah dari Ujung Timur Lombok

Lpsdmitra

Kelompok harapan maju dan kripik pisang asam manis hasil produksi kelompok

Di tengah tantangan perubahan iklim yang memengaruhi hasil pertanian, ibu-ibu di Desa Dara Kunci menemukan jalan baru melalui Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP) Harapan Maju. Dengan pendampingan LPSDM (Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra) dan dukungan World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK-RI), mereka memanfaatkan pangan lokal seperti pisang, ubi jalar, dan singkong untuk menciptakan produk olahan inovatif, termasuk keripik pisang pedas-asam-manis. Inisiatif ini tidak hanya menambah pendapatan rumah tangga, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi dan lingkungan, serta menjadi inspirasi bagi kelompok lain dalam menghadapi perubahan iklim secara adaptif.

Desa Dara Kunci adalah sebuah desa yang terletak di Wilayah Timur Kabupaten Lombok Timur, berjarak sekitar 63 km dari pusat Kota Selong. Mayoritas masyarakat Desa Dara Kunci menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim telah berdampak besar terhadap pola tanam dan hasil panen. Ibu Zakiah, seorang ibu rumah tangga, merasakan langsung dampak perubahan tersebut. “Sekarang, di tengah harga pupuk yang mahal, ditambah lagi dengan cuaca yang tidak menentu, menjadi tantangan tersendiri bagi kami yang hidup dari pertanian,” ujarnya.

Latihan penyadaran masyarakat untuk berkelompok – UBSP oleh LPSDM

Di tengah kekhawatiran tersebut, LPSDM sebagai mitra pendamping masyarakat yang didukung oleh WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI, hadir membersamai ibu-ibu untuk membentuk lembaga keuangan mikro dalam bentuk Kelompok Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP). Kelompok UBSP mengusung konsep partisipatif, dimana anggota menyimpan uang, mengelola dan meminjamnya, serta membuat aturan-aturan sesuai kesepakatan bersama. Dalam proses pendampingan, kelompok UBSP diberikan pelatihan bertajuk “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim”. Melalui program ini, LPSDM memperkenalkan konsep pemanfaatan lahan pekarangan, pemanfaatan pangan lokal sebagai salah satu solusi di tengah perubahan iklim. Langkah-langkah yang dilakukan tersebut sebagai bentuk upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim. Tujuan pemilihan topik latihan ini adalah menciptakan sumber penghasilan alternatif yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Kebun Pisang, salah satu kebun pemasok bahan baku keripik

Pangan lokal seperti singkong, jagung dan ubi jalar dan jenis buah-buahan seperti pisang merupakan tanaman yang tahan terhadap kondisi dengan curah hujan yang rendah dan atau berlebihan. Pangan lokal ini dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk olahan yang bernilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan jika dijual secara langsung.

Dampak dari pelatihan dan pendampingan yang dilakukan secara konsisten, Ibu Zakiah mengaku mendapatkan sumber pendapatan baru. Lebih dari itu, Ibu Zakiah dan 15 orang ibu rumah tangga lainnya mengembangkan produk olahan berbasis pangan lokal.

Bersama-sama, mereka mengawali kegiatan dengan membentuk Kelompok UBSP Harapan Maju pada tanggal 12 Maret 2019 dengan jumlah anggota 16 orang. Pada bulan pertama kelompok UBSP berhasil mengumpulkan modal awal sebesar Rp 1.760.000,-. Dana tersebut terdiri dari Simpanan Pokok Rp 1.600.000 (Rp 100.000 per orang) dan Simpanan Wajib Rp 160.000,- (Rp 10.000 per orang per bulan).

Proses pembuatan kripik dari pisang kepok  oleh ibu-ibu UMKM Harapan Maju

Setelah terbentuknya kelompok UBSP, LPSDM melakukan pendampingan dan pelatihan tentang pentingnya membangun bisnis/usaha. Ibu Zakiah dan 3 anggota UBSP lainnya mulai mencoba untuk memproduksi kripik ubi jalar dengan modal awal yang dipinjam dari UBSP sebesar Rp 370.000,- untuk satu kali produksi.

Digitalisasi UMKM Lombok Timur : https://youtu.be/2UuoJkT7Uq4?si=Dx2j7GczqZFMixxg

Melalui usaha kecil ini, kelompok UBSP mulai memahami bahwa pangan lokal selain lebih tahan terhadap perubahan iklim, tetapi juga dapat menjadi sumber penghasilan baru untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga. Dari modal itu, hasil penjualan awal mencapai Rp 690.000,- sehingga penghasilan dari pembuatan  kripik ubi jalar ini adalah Rp 320.000,-. Proses penjualannya dilakukan dengan cara dititipkan di kios/warung yang berada di di dalam wilayah Desa Dara Kunci. Setelah 3-5 hari penitipan kripik, barulah Ibu Zakiah dan kawan-kawannya mendatangi kios-kios tersebut untuk mengambil bayarannya. Ini alasannya mengapa Ibu Zakiah hanya bisa memproduksi satu kali dalam seminggu, akan tetapi Ibu Zakiah sendiri tetap optimis, jika bisnis ini lancar maka produksi bisa dilakukan 2-3 kali dalam seminggu. Saat itu kelompok UBSP belum mendapatkan pelatihan pembuatan NIB (Nomer Induk Berusaha) dari Dinas Perindustrian. Usaha yang dijalankan bersama kelompok, tentu tidak selalu berjalan dengan baik, pasti ada pasang dan surutnya. Sejak terjadinya Covid-19 pada tahun 2020, usaha mulai tersendat dan bahkan tidak berjalan karena ada larangan untuk berkumpul.

Latihan pengemasan produk bersama Dinas Perindustrian

Ibu Zakiah, adalah sosok perempuan yang menginspirasi, sosok perempuan tangguh, sosok pemimpin yang selalu memiliki ide dan semangat untuk bertumbuh. Ia dan Ibu Hadijah, dua perempuan yang mengajarkan untuk tidak berhenti belajar walaupun dinamika kelompok naik turun. Pada tahun 2021, Ibu Zakiah bersama beberapa ibu rumah tangga mulai berkelompok lagi, mulai membangun kembali usaha kripik pisang.  Usaha dijalankan dengan jumlah produksi yang masih kecil, namun secara konsisten dijalankan bersama 10 orang anggota kelompok.

Orang lain juga membaca : https://www.lpsdmitra.com/2025/11/14/menuju-treble-trophy-lestaridari-desa-untuk-masa-depan/

Tahun 2024, usaha kiripik yang mereka jalankan masih dengan citarasa original dan balado, lokasi pemasaran masih di dalam wilayah Desa Dara Kunci. Pada tahun 2025, ketika Tim LPSDM memperkenalkan berbagai macam citarasa baru, Ibu Zakiah memberikan ide yang berbeda pada saat pertemuan bulanan. Citarasa pedas asam dan manis bercampur menjadi satu di lidah pecinta keripik. Di tengah maraknya keripik pisang yang dibalut dengan coklat, green tea, vanila, dllnya, inovasi sederhana ini menarik perhatian LPSDM untuk membuat dan meracik rasa agar mempunyai komposisi yang sesuai dengan lidah penikmat. Keripik pisang pedas asam manis adalah produk unggulan kelompok dan mendapat respon positif dari penikmat keripik. Jenis pisang yang diolah adalah pisang kepok karena memiliki daging buah yang lebih padat dan tidak terlalu berair daripada jenis pisang lainnya. Selain itu, pisang kepok memiliki rasa yang netral sehingga cocok diolah menjadi berbagai macam varian rasa. Keripik pisang dengan citarasa pedas asam manis ini bukan hanya inovatif dari sisi rasa, tapi juga menggunakan bahan baku lokal. Memanfaatkan hasil buah pisang dari petani lokal, sehingga usaha bersama tidak hanya berdampak kepada kelompok UBSP, tetapi juga berdampak baik untuk petani yang menanam pisang kepok di Desa Dara Kunci.

Kripik Pisang 1.Rasa Original ; 2. Manis ; 3. Pedas Asam Manis

Keripik pisang dengan citarasa baru ini menarik dan laku dipasaran. Sistem pemasaran dilakukan secara online dan offline. Kelompok saat ini melakukan riset pasar dengan cara memasarkan produk keripik melalui media sosial yaitu Facebook dan WhatsApp. Facebook dapat dilihat melalui akun: Keripik Harapan Bersama dan WhatsApp (nomor: +6287764974210). Pemasaran digital secara sederhana ini mampu memperluas pasar dan bisa menjangkau konsumen dengan cara yang lebih hemat biaya. Keripik juga dipasarkan melalui pengepul, dan diletakkan di beberapa kios anggota kelompok UBSP termasuk kios Ibu Zakiah. Usaha ini rata-rata menghasilkan omset penjualan Rp 1.500.000 per bulan dengan keuntungan bersih sekitar Rp 700.000, yang dikelola secara kolektif 10 orang anggota kelompok (6 orang produksi dan 4 orang pemasaran) dan dibagi berdasarkan kesepakatan kelompok. Pembagian keuntungan ini memberikan kontribusi yang cukup baik, sangat membantu menambah pendapatan keluarga.

“Kondisi saat ini sudah berbeda, musim tidak bisa ditebak, kadang panas atau hujan yang berkepanjangan. Kondisi ini berdampak, terutama bagi petani. Syukurnya, kami dari Kelompok UBSP Harapan Maju yang didampingi oleh LPSDM dengan dukungan WN yang bekerjasama dengan KLHK-RI telah mengembangkan produk keripik untuk sumber pendapatan tambahan ditengah hasil panen pangan yang tidak menentu”, ungkap Ibu Zakiah

Pembuatan bungkusan jajanan bantal oleh Ibu Hartini

Kelompok UBSP lainnya yang juga telah aktif mengembangkan usaha produktif yang adaptif perubahan iklim adalah Kelompok UBSP Barokah Desa Perian dengan anggota 16 orang. Kelompok ini mengembangkan usaha olahan makanan. Kelompok UBSP Barokah juga melihat adanya potensi sumber daya di sekitar mereka, memanfaatkan daun kelapa muda sebagai bungkusan jajanan seperti jajan bantal. Selain itu, daun pisang juga dijadikan sebagai bungkusan jajan celilong. Hasil budidaya pangan lokal seperti talas, ubi jalar, singkong dan pisang diolah menjadi keripik. Selain itu, UBSP Barokah juga menjual minyak goreng kelapa dan sambal belut yang bahan bakunya dari potensi alam Desa Perian. Anggota yang tergabung di kelompok UBSP telah berhasil berkontribusi terhadap pendapatan keluarga dari usaha ekonomi yang adaptif terhadap perubahan iklim. Olahan makanan ini dipasarkan secara langsung oleh anggota kelompok ke pasar-pasar dan dapat dipesan secara online melalui WhatsApp (nomor : +62877-2655-8744).  Rata-rata pendapatan yang diperoleh Kelompok UBSP Barokah saat ini sebesar Rp 805.000,- per kelompok per bulan. Anggota kelompok masih sangat semangat untuk terus berupaya meningkatkan omset usaha olahan makanan ini dengan cara memperluas jaringan pasar.

Berbeda dengan kedua kelompok UBSP di atas, yang membuat usaha yang adaptif terhadap perubahan iklim secara berkelompok. Dari Desa Sapit, Ketua Kelompok UBSP Rizky Tetajen, Ibu Hodiana membangun ketangguhan ekonomi rumah tangga bersama suaminya. Ibu Hodiana mengembangkan usaha individu telur ayam dengan menjadi peternak langsung dan aktif memanfaatkan kotoran ternak ayam yang dicampur dengan limbah kopi untuk dijadikan pupuk organik. Pupuk ini digunakan kembali untuk menyuburkan lahan pertanian di kebunnya, menciptakan pertanian yang hemat biaya, dan ramah lingkungan. Saat ini, dari kandang ayam yang dikelolanya, ia mampu menghasilkan 26 terai telur setiap hari, dengan penjualan setiap hari 15-20 terai. Usaha ini yang menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarganya. Kandang ayam dikelola Ibu Hodiana dan suaminya dari proses pemberian pakan hingga pemanenan hasil telur ayam. Telur ayam dipasarkan langsung di wilayah Kecamatan Suela, dan dapat dipesan secara online melalui WhatsApp (nomor : +62877-5442-0561). Rata-rata pendapatan (laba) yang didapatkan sebesar Rp 1.400.000,- per bulan.

Hasil panen telur ayam Ibu Hodiana

Untuk mendorong perkembangan usaha, diperlukan langkah strategis dalam aspek produksi dan pemasaran. Rencana ke depan diarahkan pada penguatan kapasitas produksi dan perluasan akses pasar. Pengembangan usaha kripik tidak hanya dari bahan baku pisang, tetapi juga dari ubi jalar dan ubi kayu. Hal ini sebagai upaya diversifikasi produk dan penguatan daya saing usaha. Dari sisi pemasaran, perluasan distribusi perlu dilakukan, bukan hanya di dalam desa saja, akan tetapi perlu menjangkau desa-desa lainnya khususnya di Kecamatan Sambelia.  Dukungan dari pemerintah desa sangat diperlukan dalam pengembangan usaha seperti modal usaha, peralatan, pelatihan usaha dan pemasaran. Usaha ini diharapkan mampu tumbuh menjadi unggulan  desa yang memberikan kontribusi ekonomi bagi masyarakat.

Also Read

Bagikan:

Tinggalkan komentar