Kisah sukses ProKlim Embang-Embangan menunjukkan bagaimana ketekunan petani desa dalam mengembangkan agroforestri kapuk mampu membuka jalan menuju peluang yang lebih luas. Dengan pendampingan dari LPSDM (Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra) yang didukung World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLHK RI), inisiatif lokal ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi hingga ke tingkat global dimana Kelompok ProKlim mendapatkan kepercayaan bekerjasama dengan sektor swasta. “Pengenalan Agroforestri ini cukup menarik. Lahan-lahan petani disini cukup luas dan cenderung hanya ditanami satu jenis tanaman saja. Kalau kita kelola dengan baik, tentu hasilnya akan lebih banyak”, ungkap Pak Raudi Ketua ProKlim Embang-Embangan.
Desa Pringgabaya Utara merupakan salah satu desa dampingan dari LPSDM sejak tahun 2018 melalui Program Adaptasi Perubahan Iklim yang didukung oleh World Neighbors (WN) yang bekerjasama dengan KLHK RI. Salah satu yang diintervensi dalam program ini adalah memberikan pengenalan dan pelatihan pertanian terpadu dengan model agroforestri. Tujuan agroforestri adalah meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan. Penerapan pertanian model agroforestri diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memberikan perlindungan dan meningkatkan produktivitas lahan. Sampai saat ini, melalui pendampingan yang dilakukan secara konsisten, masyarakat di Dusun Embang-Embangan, Desa Pringgabaya Utara sudah banyak yang mengadopsi dan menerapkan pertanian model agroforestri dengan berbagai jenis tanaman diantaranya adalah tanaman umur panjang, tanaman umur menengah dan tanaman umur pendek. Jenis tanaman yang ditanam seperti tembakau, jagung, cabai, singkong, ubi jalar, rajumas, sengon, mangga, nangka, alpukat, sawo, matoa dan tanaman yang lainnya. Pertanian agroforestri memberikan banyak keuntungan bagi petani, selain dari hasil panen tanaman pangan dan holtikultura, yang didapatkan juga dari hasil tanaman kayu dan mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Pendampingan dengan pengorganisasian intensif dan pendekatan skema Program Kampung Iklim (ProKlim), memudahkan LPSDM untuk melakukan pendampingan secara berkelanjutan.
Ketekunan dan komitmen Pak Raudi serta anggota kelompoknya mendorong semakin kuat dan terbuka kerjasama dengan pihak luar untuk pengembangan potensi yang lebih optimal. Peluang kerjasama ini diawali dengan kedatangan Pak Karta dari PT Sadana pada tahun 2021 dalam pertemuan sosialisasi pengembangan kapuk (pohon randu) waktu itu.
Pak Karta melihat Desa Pringgabaya Utara, sebuah wilayah yang dulunya pernah subur dengan pohon kapuk yang menjadi tulang punggung ekonomi warga, yang diolah menjadi bantal dan kasur. Namun, seiring waktu, ekspansi lahan pertanian menyebabkan penebangan pohon-pohon besar, termasuk pohon randu. Acara pertemuan diselenggarakan oleh Yayasan Kapuk Regeneratif Wanatani (KRAF) yang didukung (didanai) oleh Flocus B.V. KRAF adalah yayasan yang berfokus pada agroforestri regeneratif dengan budidaya kapuk untuk industri tekstil yang ramah lingkungan, sekaligus bertujuan merestorasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, Flocus B.V. adalah perusahaan internasional dari Belanda dan Italia yang berdedikasi mencari solusi serat berkelanjutan potensi ekspor kapuk dari Indonesia.
Proklim Lombok Timur : https://youtu.be/kQdzhRIcRpk?si=PAy9MzGWwVYhmcem
Dalam pertemuan tersebut, Pak Raudi, Ketua ProKlim Embang-Embangan, hadir dengan pikiran terbuka. Ia melihat ini bukan sekadar sosialisasi biasa, melainkan sebuah peluang strategis untuk mengembangkan agroforestri yang berkelanjutan di wilayahnya. Keyakinan itu semakin kuat setelah ia memahami visi pak positif bagi masyarakat.

Kerja sama yang terjalin tentu akan memberikan dampak positif yang lebih luas bagi masyarakat Desa Pringgabaya Utara, khususnya di Dusun Embang-Embangan yang merupakan salah satu Dusun Program Kampung Iklim. “Saat saya mengikuti sosialisasi ini, saya dan masyarakat lainnya berpikir bahwa ini masih sejalan dengan kegiatan-kegiatan yang saya lakukan dan berpotensi dalam pengembangan kegiatan ProKlim di tempat saya. Ini berpeluang untuk meningkatkan hasil perkebunan dan pertanian,” ungkap Pak Raudi.
Perjuangan Mengatasi Tantangan dan Memulai Gerakan
Langkah awal Pak Raudi tentu tidaklah mudah untuk meyakinkan masyarakat menamam kembali pohon randu secara luas. Ada kekhawatiran terkait pasar, hasil panen dan persepsi bahwa pohon kapuk yang berukuran besar akan menaungi tanaman pertanian lainnya.

Namun, Pak Raudi sebagai ketua ProKlim memiliki solusi cerdas. Ia mencoba mengajak anggota ProKlim sebanyak 40 orang yang bersedia menyiapkan lahannya sebagai kebun pencontohan, tidak sekaligus semua orang, namun langkah ini menunjukkan bentuk komitmen dan keseriusan sebagai petani yang berharap ada perubahan. Pada tahap pertama ini, dilakukan penanaman sebanyak 10.000 anakan kapuk yang ditanam di lahan seluas kurang lebih 100 hektar. Setiap anakan pohon randu/kapuk memiliki nilai sebesar Rp 1.000, dengan tambahan biaya penanaman sebesar Rp. 500 per pohon. Seluruh kegiatan penanaman dilakukan secara swadaya oleh petani di lahan masing-masing. Total nilai bantuan yang diberikan untuk pengadaan bibit dan penanaman pohon ini mencapai Rp 15.000.000,- yang sepenuhnya berasal dari Yayasan KRAF yang didukung Flocus B.V. Bantuan ini bersifat hibah, murni tanpa pengembalian modal kepada mereka. Ini adalah demonstrasi nyata yang diharapkan menjadi kebun pembelajaran untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Pertumbuhan Bertahap dan Dampak Meluas
Melihat keberhasilan awal ini, pada bulan Mei 2024, Yayasan KRAF menawarkan Pak Raudi untuk melakukan penyemaian bibit secara mandiri. Dalam tahap ini, kelompok ProKlim berhasil menyemaikan 30.000 bibit pohon kapuk. Bibit ini kemudian dibagikan kepada petani-petani di Desa Pringgabaya Utara.
Kesuksesan pada tahap kedua ini membawa pengakuan bagi Pak Raudi. Ia diundang sebagai narasumber pada pertemuan sosialisasi pengembangan agroforestri dengan tanaman kapuk di Kabupaten Sumbawa. Sekembalinya dari Sumbawa, Pak Raudi mulai memperluas jaringannya, mengajak kelompok tani di Desa Mekar Sari, Kecamatan Suela, untuk mengembangkan agroforestri kapuk, terutama di wilayah Hutan Kemasyarakatan (HKM).
Pada tahap ketiga, keberlanjutan proyek ini semakin terlihat. Pak Raudi dan anggota ProKlim lainnya menyemaikan bibit kapuk sebanyak 40.000 anakan. Sebanyak 25.000 bibit ditanam di Desa Mekar Sari, dan 15.000 bibit sisanya digunakan sebagai penyulaman di wilayah Pringgabaya Utara. Kegiatan pembibitan ini mencakup seluruh proses mulai dari penyemaian benih hingga pemeliharaan rutin selama kurang lebih 9 bulan. Seluruh proses pembibitan dilakukan oleh kelompok tani dan atau kelompok ProKlim. Total biaya yang dikeluarkan oleh perusahan Flocus B.V untuk kegiatan pembibitan ini sebesar Rp 35.000.000,-. Biaya ini sepenuhnya dialokasikan untuk mendukung keberhasilan proses pembibitan yang merupakan bagian dari kerjasama antara kelompok tani/ProKlim dengan Yayasan KRAF. Dalam kegiatan penanaman pada tahap ini dilakukan secara swadaya oleh petani pada lahan masing-masing.

Menjadi Pusat Pengumpul dan Pendorong Kesejahteraan
Berkat serangkaian keberhasilan ini, Pak Raudi dipercaya oleh Yayasan KRAF sebagai penampung hasil panen di tiga kabupaten: Lombok Utara, Lombok Tengah, dan Lombok Timur. Dalam kerja sama ini, Pak Raudi telah berhasil mengirimkan 25 ton kapuk. Langkah ini diambil karena anggota kelompok belum memasuki masa panen. Saat ini kegiatan pengiriman ini dikoordinasikan langsung oleh Pak Raudi yang berperan sebagai pengepul pribadi yang mengkoordinasi- kan, mengumpulkan dan mengirim kapuk ke Yayasan KRAF. Harga pembelian kapuk sebesar Rp 5.000 per kilogram, sementara harga jual ke Yayasan KRAF sebesar Rp 7.000,- per kilogram. Dengan demikian, keuntungan yang didapat sebesar Rp 2.000,- per kilogram, yang di dalamnya sudah mencakupi biaya operasional di lapangan. Sedangkan pengangkutan kapuk dilakukan oleh Yayasan KRAF. Ke depannya, Pak Raudi tidak hanya akan terus melanjutkan usaha pengumpulan kapuk, tetapi juga berperan sebagai pengepul utama bagi para petani lokal/anggota ProKlim. Program kerjasama ini diharapkan memberikan dampak baik secara ekonomi maupun ekologis.

Inovasi terus berlanjut, tahun 2025 Pak Raudi sedang menjajaki kerja sama lanjutan dengan KRAF dan Flocus B.V untuk mengembangkan pupuk dari limbah pohon randu. Ini menunjukkan komitmennya terhadap praktik berkelanjutan dan pemanfaatan sumber daya secara menyeluruh.
Orang lain juga membaca : https://www.lpsdmitra.com/2023/10/13/pengukuhan-fprb-rinjani-kabupaten-lombok-timur/

Kelompok ProKlim Dusun Embang-Embangan, dengan leader yang gigih dan tekun mampu membawa bukti nyata bagi anggota dan kelompoknya. Ketetapan visi, ketekunan, komitmen bersama dan terbuka untuk kolaborasi dapat mengubah tantangan menjadi peluang. Kekompakan kelompok ProKlim dalam menerapkan pertanian model agroforestri terbukti membuahkan hasil yang baik. Semangat gotong royong, dan komitmen bersama terhadap pelestarian lingkungan dan pengolahan lahan secara berkelanjutan telah menarik perhatian pihak swasta untuk menjalin kerjasama.
Kelompok Proklim Kokok Pedek Desa Sugian

Selain Kelompok ProKlim Embang-Embangan, kelompok Proklim Kokok Pedek Desa Sugian juga berhasil bekerjasama dengan Bank Rakyat Indonesi (BRI). Sebelumnya Desa Sugian menjadi Desa BRILian, yang merupakan salah satu Program dari Bank BRI untuk mengembangkan potensi desa. Dengan kerjasama itu, pada tahun 2024. ProKlim Kokok Pedek melihat peluang dan mengajukan proposal untuk pengembangan tanaman buah produktif. Bank BRI melihat potensi dari semangat kelompok proklim, melalui program BRI menanam, kemudian memberikan dukungan berupa bibit produktif yang dibagikan kepada masyarakat. Jenis bibit yang dibagikan yaitu mangga, durian dan kelengkeng dengan total 500 anakan, total nilai bantuan sebesar Rp 44.000.000,-. Program ini bermanfaat dalam waktu jangka panjang sebagai sumber penghasilan masyarakat. Selain itu juga dapat memberikan manfaat terutama pada kelestarian lingkungan. Manfaat yang tidak kalah penting adalah, kerjasama antara ProKlim dengan BRI menunjukkan bahwa kolaborasi bisa menciptakan dampak yang positif untuk mempercepat aksi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.
Kelompok Proklim Barangtapen Asri Desa Seruni Mumbul

Dari Desa Seruni Mumbul, kelompok ProKlim Barangtapen Asri bersama dengan Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Desa Seruni Mumbul yang didampingi LPSDM melakukan advokasi untuk kebutuhan sistem peringatan dini bencana banjir bandang. Melalui proses diskusi, pemetaan risiko dan perencanaan rencana aksi. Pada tahun 2024, mendapatkan dukungan dari Caritas Germany untuk pembangunan infrastruktur peringatan dini bencana banjir bandang. Total nilai bantuan yang diterima sebesar Rp 95.000.000,-. Infrastruktur yang dibangun diantaranya adalah Radio Pancar Ulang (RPU) yang dibangun di daerah penyangga (Desa Puncak Jeringo) untuk memperluas jangkauan komunikasi radio dari hulu ke hilir menggunakan HT (Handy Talky), dengan adanya RPU ini komuikasi via HT bisa diperluas radiusnya dari 3 Km menjadi 20-30 Km. Selain itu, pembangunan stasiun pemantau curah hujan (Automatic Rain Gauge) di daerah peyangga yaitu di Desa Perigi dan Desa Puncak Jeringo yang berfungsi untuk memantau dan mengukur curah hujan secara otomatis dalam periode waktu tertentu.
Alat ini mempunyai fungsi penting dalam sistem peringatan dini karena mampu memberikan data yang akurat dan real-time, sehinggaTSBD ataupun Tim ProKlim mampu mendeteksi bencana banjir bandang dengan lebih cepat. Terakhir adalah pemasangan stasiun radio amatir di Desa Perigi untuk mempercepat pemberian informasi kondisi cuaca yang ada di daerah penyangga, sehingga Desa Seruni Mumbul yang berada di wilayah hilir bisa dengan cepat memperoleh informasi curah hujan – banjir sehingga mampu mengantisipasi dampak banjir bandang, terutama menyelamatkan jiwa dan aset rumah tangga.
Kolaborasi ini tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, tetapi juga membuka peluang pengembangan usahatani yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta memperbesar peluang bantuan sumber daya untuk mempercepat aksi lingkungan.



